Serangan Hamas 7 Oktober 2023 terhadap militer kolonialis Israel tidak diragukan lagi, peristiwa bersejarah ini akan dikenang generasi mendatang. Badan intelijen Israel Mossad, yang selama ini dielu-elukan sebagai organisasi mata-mata tercanggih di dunia, ternyata berhasil dikelabuhi Hamas.
Peralatan intelijen dan pengawasan Mossad yang banyak digembar-gemborkan gagal total menangkal serangan Hamas. Kecanggihan agen mata-mata zionis berubah menjadi mitos di hadapan para serdadu Al-Qossam.
Dalam realitanya, Operasi Taufan Al-Aqsha berhasil melumpuhkan markas komando militer kolonial Israel di perbatasan Gaza, meghancurkan tank-tank, merampas peralatan militer, dan menewaskan ratusan para tentara, serta menyandera banyak perwira.
Tiga puluh enam jam setelah serangan Brigade Izzuddin Al-Qassam, sayap militer Hamas, Menteri Keamanan kolonial Israel Itamar Ben-Gvir akhirnya muncul di tengah publik menyerukan kehancuran total Hamas sambil mencoba mengalihkan perhatian masyarakat dari kegagalannya.
“Negara Israel sedang mengalami salah satu peristiwa tersulit dalam sejarahnya. Ini bukan waktunya untuk bertanya, menguji, dan menyelidiki,” ujarnya.
Penulis melihat ada dua hal di balik kesukesan Hamas mengelabuhi intelijen Mossad dan militer penjajah. Ini tentu sangat menarik.
Bagaimana mungkin Hamas yang hanya menguasai wilayah kecil Gaza berhasil menaklukan pasukan kolonialis Israel yang didukung polisi dunia dengan uang dan persenjataan canggihnya.
Pertama, terjadinya transformasi militer Al-Qassam. Harus diakui, Hamas bukanlah gerakan Islam tradisional. Mereka telah berkembang menjadi gerakan Islam modern yang memiliki kader-kader ahli tidak hanya pada tataran keagamaan tapi juga saintis, teknokrat, dan ahli militer.
Hamas memiliki beragam persenjataan yang dibangun selama bertahun-tahun. International Institute for Strategic Studies (IISS), yang berbasis di Inggris, menyebut Brigade Al-Qassam memiliki anggota sekitar 15.000 orang. Dalam versi lain, ada yang menyebutnya 40.000 milisi (Al Monitor, 2023).
Tak hanya itu, Hamas pun berhasil membuat persenjataan made in local seperti; drone, ranjau, peluru kendali anti-tank dan lain sebagainya. Mayoritas roketnya juga diproduksi secara lokal, meski belum sempurna secara teknologi. Meski Mossad dan intelijen Israel kerap disebut sebagai organisasi militer yang sangat unggul, fakta menunjukkan situasi sebaliknya.
Kedua, kematangan strategi militer Hamas. Majalah Economist menurunkan tulisan menarik yang berjudul: Hamas’s attack was an Israeli intelligence failure on multiple fronts. Media berbasis di Inggris itu mengulas lebih jauh bagaimana kehebatan operasi militer Hamas yang berhasil melumpuhkan kekuatan militer penjajah.